Saturday, November 8, 2014
Bagaimana rasanya menjadi asing?
Bagaimana rasanya menjadi asing?
Saat semua yang biasa aku lakukan terasa begitu berkebalikan, 360 derajat.
Menyebut namanya?
Rasanya tak sanggup, apalagi jika disuruh menatap matanya.
Bagaimana rasanya saat dulu membuka profil berbagai akun pribadimu adalah salah satu rutinitasku, sementara sekarang berubah begitu berbeda untuk click membuka akun profile nya saja tak mampu, karena takut membuka bacaan yang membuat mata perih.
Bagaimana rasanya menjadi asing, sayang?
Kamu yang begitu akrab dipikiran, sengaja ku usir jauh-jauh, memaksa hati ini untuk membenci semua tentang kamu yang padahal dulu sangat aku cintai biografinya.
Bagaimana rasanya mengubah suatu kebiasaan?
Kamu yang selalu aku jadikan pintu penyangga duniaku, kini bahkan hanya menjadi bagian dari sepenggal kebahagiaan fana.
Kamu yang selalu menjadi alasan ku tertawa dan ingin cepat membuka pagi, kini hilang ditelan klise nan nyata.
Berganti kamu yang sekedar melintas dipikiran akan membuat lukaku kembali berdarah.
Hal yang sangat ku takuti ialah, menahan rindu yang menggebu sementara tak bisa berbuat apa-apa bahkan untuk memperbaiki keadaan.
Sahabatku kini air mata, ia selalu menemani disetiap tetes-tetesnya, setia membasahi pelupuk mata jika aku sakit teringat kamu. Ku bayar dengan menangis sekeras-kerasnya.
Sebab sebelum kita sejauh matahari, kita pernah sedekat nadi — sayang.
Friday, November 7, 2014
Sanggupkah?
Dipikiran ini, berjuta kata berputar tak beraturan.
Meski "kita" tak lagi sebagai kalimat penyangga.
Ada "kau" dan "aku" sebagai penawarnya.
Dan "kau" masih menjadi tema yang selalu ingin kutuliskan.
Biarkan siang dan malam berotasi.
Biarkan musim-musim berganti.
Biarkan pula cuaca pergi.
Hingga aku dan kau tahu seberapa kalimat yang kita lupa baca.
Perlahan menjadi usang dan menjadi debu lalu menghilang.
Merasa belum cukup adalah caraku untuk menyiksa diri.
Luka tak akan pernah lepas karena aku masih memeluknya.
Karena bagian paling tersulit ialah sepakat dengan kenyataan.
Kucantumkan selalu namamu berulangkali, dalam setiap doa dan pengharapan bahagia.
Sementara waktu, ku belajar memulai hari tanpa mencintaimu dengan utuh.
Kelak, mungkin akan lebih lama atau bahkan selamanya.
Kutitipkan salam rindu, karena aku akan sibuk mencari kebahagiaan baru.
Dhirachameleon
Meski "kita" tak lagi sebagai kalimat penyangga.
Ada "kau" dan "aku" sebagai penawarnya.
Dan "kau" masih menjadi tema yang selalu ingin kutuliskan.
Biarkan siang dan malam berotasi.
Biarkan musim-musim berganti.
Biarkan pula cuaca pergi.
Hingga aku dan kau tahu seberapa kalimat yang kita lupa baca.
Perlahan menjadi usang dan menjadi debu lalu menghilang.
Merasa belum cukup adalah caraku untuk menyiksa diri.
Luka tak akan pernah lepas karena aku masih memeluknya.
Karena bagian paling tersulit ialah sepakat dengan kenyataan.
Kucantumkan selalu namamu berulangkali, dalam setiap doa dan pengharapan bahagia.
Sementara waktu, ku belajar memulai hari tanpa mencintaimu dengan utuh.
Kelak, mungkin akan lebih lama atau bahkan selamanya.
Kutitipkan salam rindu, karena aku akan sibuk mencari kebahagiaan baru.
Sunday, November 2, 2014
Lepaskan lah..
Ada saat dimana kita takut kehilangan, takut untuk melepaskan dia yang kita cinta, tetapi ada pula saat dimana kita harus berhenti mencintai dia — bukan karena kita tidak mencintai nya lagi, namun karena kita menyadari bahwa dia akan lebih berbahagia apabila kita merelakan dia pergi.
Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kebahagiaan kita tergantung dari keberadaan yang didekat kita.
Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita takut kita tidak akan pernah menemukan orang sesempurna dia.
Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika kita menilai dia ganteng dia cantik dia memiliki kelebihan dibandingi orang lain.
Kita tidak mau kehilangan seseorang ketika mengingat begitu banyak kenangan indah yang sudah kita lalui.
Kita tidak mau kehilangan seseorang saat dalam hati kita berkata 'aku gak bisa, aku sangat mencintai dia dan kalian gak tau apa yang aku rasain'
Tapi sadarkah kita bahwa merelakan dia pergi bukanlah akhir dari segalanya melainkan awal dari sebuah kisah yang baru.
Kita harus melepas dia pergi, karena kebahagiaan kita adalah kita yang menentukan sendiri dan bukan tergantung dari orang lain.
Kita harus melepaskan dia pergi karena saat Tuhan mengambil dia pergi maka Tuhan juga telah menyiapkan hal yang lebih indah untuk kita.
Kita harus melepaskan dia pergi karena yang sempurna belum tentu yang baik untuk kita.
Kita harus melepaskan dia pergi karena kenangan-kenagan indah itu hanya masalalu.
Kita harus melepaskan dia pergi karena hati yang lain berkata 'aku ini manusia bodoh, tidak ada lagi alasan untuk bertahan'
Kehilangan sesuatu memang berat namun kehilangan sesuatu bukan berarti kita tidak mencapai apa-apa. Kita telah memahami sesuatu karena ada saat mempertahankan ada saat melepas dan ada saat dimana kita harus kehilangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)