Thursday, October 30, 2014

Tahu diri.


"Ah sial, sudah susah payah menghindari manusia satu itu. Kenapa harus dipertemukan lagi, sih?" ledak suara hatiku. Setelah berpapasan dengan "Dia" seseorang yang sudah mati-matian aku lupakan tentang biografinya.

Siapa sangka "sampai jumpa lagi" yang tak sempat kau ucapkan saat perpisahan waktu itu ternyata mengacu pada sebuah pertemuan yang tidak disengaja. Ditempat yang paling tidak memungkinkan untuk mempertemukan kita. Malam ini, karena perjumpaan yang tidak kusangka ini, otak ku sibuk menggali masa lalu saat aku masih bersama kamu. Perbedaan pertemuan kali ini adalah, sekarang pertemuan kita hanya sebatas teman.

Ku mohon, jangan sampai kau mengucapkan sepatah kalimat sapa untuk ku, ku mohon.

"Hai, apa kabar? Sedang belajar menjadi orang sombong, ya?" ah sial! Kenapa kita mesti dipertemukan lagi, sih? Mati-matian aku lupakan semua tentang kamu, dan dengan semudah ini, hal yang kulupakan dapat kembali ku ingat. Hatiku mulai berkecamuk saat kamu membuka percakapan.
"Baik (sebenarnya belum pernah ku merasakan sebaik ini sebelum bertemu lagi dengan kamu) , kamu bagaimana? Ah tidak, hehe." sebenarnya aku tidak sanggup untuk melanjutkan percakapan lagi, dan kamu memaksa ku untuk tetap melanjutkan nya. Padahal, banyak sekali pertanyaan yang ingin ku muntahkan pada kamu, mumpung kamu masih disini; "Bagaimana kamu bisa memulai hari tanpa aku? Bisakah kau mengajariku bagaimana caranya?"
"Sekarang, siapa yang selalu mengingatkanmu untuk tidak lupa mengambil kunci ketika diparkiran?"
"Tidak kah kamu merindukan ku? Seperti aku yang selalu rindu akan kamu layaknya orang kehilangan akal."
"Apakah rasa yang tak biasa untuk ku ini, masih ada?"

Jujur saja, sungguh tak mudah bagiku, rasanya tak ingin bernafas lagi, aku sibuk mengatur nafasku yang memburu, badan inipun rasanya tak mampu tegak berdiri; didepan mu kini. Hatiku terasa ditusuk, melawan cinta yang masih ada dihati.
Malam ini, aku berharap semoga kebetulan dengan kamu ini hanya terjadi sekali dalam hidupku.

Banyak yang tak berubah dari kamu, jaket yang kau pakai, yang pernah kau berikan ketika aku menggigil kedinginan, parfum yang masih ku ingat betul harum aroma tubuhmu ketika dulu kau selalu mendekap aku, juga tas, pemberianku yang masih kau pakai. Sebenarnya, aku sangat senang karena pemberianku yang masih kamu pakai dan hargai juga karena pertemuan yang tidak semenyangka ini tetapi sebenarnya aku juga ingin menangis kala itu, aku tak tahu, apakah dengan begini, aku bisa benar-benar melupakanmu?

Aku masih diambang kebingungan, aku tidak tahu kapan akhir dari pertemuan ini membawaku pergi.
Padahal dulu, kamu hilang dan tak ada kabar, sama sekali kamu tak mengizinkanku sedikit saja tahu keadaanmu. Sebenarnya aku hanya ingin tahu jawaban sederhana itu dan kamu tak menyediakan sedikit saja kesempatan ku untuk mendapat jawaban dari pertanyaan tulus itu. Dan, terimakasih, malam ini yang penuh campur aduk, pertemuan ini membuatku cepat mabuk dibuat nya juga cepat membasahi pelupuk mata.

Tapi aku masih heran, apa yang membuatku tidak menahanmu waktu itu, seharusnya aku membiarkan mu pergi semudah itu, entah mungkin pikiranku yang memacu ini adalah kali terakhir kita bertemu dan aku memaksa mempercayai itu, sial memang, nyali ku tidak sebesar itu.
Rasanya ingin ku nyanyikan sepenggal lagu Maudy Ayunda yang judulnya tahu diri.
"meski masih ingin memandangimu
lebih baik kau tiada di sini

sungguh tak mudah bagiku
menghentikan segala khayalan gila
jika kau ada dan ku cuma bisa

meradang menjadi yang di sisimu
membenci nasibku yang tak berubah"

Ya, memang lagu yang pas.

Aku tidak tahu, aku terlena oleh rindu yang menggebu. Aku tak berani menatap matamu lebih lama, takut bahwa ternyata memang aku tak sebermakna lagi dihatimu.
Aku melepas kepergianmu dengan senyum lebar selebar-lebarnya hingga dia tidak membaca raut muka ku yang sebenarnya sedih.

Wednesday, October 29, 2014

Ya, cuma kamu, masih kamu, dan akan selalu kamu.


Cuma kamu, yang melahap bagian makanan yang tidak aku sukai.
Cuma kamu, yang selalu punya khas intonasi bernyanyi.
Cuma kamu, alunan syahdu yang selalu menjadi favoriteku.
Cuma kamu, sepenggal kalimat yang selalu ku tunggu dilayar handphone ku.
Cuma kamu, yang mampu membuatku lupa oleh waktu.
Cuma kamu, alasanku tidak ingin mengakhiri malam.
Cuma kamu, alasanku tak ingin melirik ke objek lain.
Cuma kamu, cakrawalaku.

Karena memang cuma kamu, yang selalu punya cara membuat garisan baru disenyumanku.
Ya, masih kamu, dan akan selalu kamu.


                                                                                                Dhirachameleon

Tuesday, October 28, 2014

Setengah 4 sore.

Aku masih ingat betul bagaimana kamu memberi petunjuk ucapan selamat tinggal.
Aku juga masih ingat betul bagaimana aku tidak ingin hal itu terjadi.
Disaat itu, sudah tidak ada artinya kah aku disampingmu?
Sudah siapkah kamu memulai hari tanpa aku?

Aku hanya bisa merengkuh tanpa berucap.
Tak mampu mengeluarkan sepatah kalimatpun.
Aku tidak pernah merasakan sekacau ini sebelumnya.
Apa kamu pernah membuat seseorang sekacau ini, sebelumnya?

Air mata tak mampu lagi ku bendung.
Jelas, mati-matian ku tahan genangan di pelupuk mata ini.
Mulutku rasanya sudah dikunci.
Menghadirkan luka baru yang menganga.

Disana, bersamanya.
Kamu masih berani menghapus derai air mataku.
"Siapapun boleh menangis didepan ku, tapi tidak untuk kamu."
Ya, lagi-lagi kalimat yang menggurat hati.

Aku diam dalam keheningan ini.
Aku bisu dalam kepedihan ini.
Hatiku berkecamuk dalam rasa yang tak menentu.
Kamu adalah jarum yang menancap dihatiku.

Setengah 4 sore.
Ya, kakimu tak lagi berat untuk meninggalkan aku.
Aku tak berdaya atas senja yang berselimut pedih.
Risau dalam hati mengaung perih.

Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan.
Aku belajar mengalah dari sebuah keegoisan.
Aku belajar tegar dari sebuah kehilangan.
Aku belajar dari kamu. :)


                                                                                                                 Dhirachameleon

Monday, October 27, 2014

Sebentar saja.


Sudah jelas, aku tidak pandai dalam menulis apalagi merangkai kosakata. Tapi, malam ini kucoba membuka notebook-ku, yang battery nya sudah nge-drop akibat aku lupa mencabut charge nya ketika ku charge'kan semalaman.
Ya, ada artikel yang mengatakan bahwa seseorang jika dilanda gundah gulana, lebih baik mengekspresikan hatinya melalui sebuah tulisan. Ini mungkin bukan pertama kaliku menulis di blog. Sebelumnya sudah pernah, tapi tidak ku lanjutkan, dan memang isi nya terlalu frontal.
Saksi hidup perjalanan cintaku memang buku diary ku, sejak kecil aku selalu menulis diary. Tapi sekarang diary ku entah kemana.
Aku sedikit tidak percaya diri, bukan karena aku lupa dengan kamu, tapi aku ingin hasilnya benar-benar sempurna. Aku terhening dalam jiwa beberapa saat. Ada 2 pertanyaan dalam benak ku, kenapa aku harus menulis artikel kamu di blog ku? Lalu, apa harus kulanjutkan?
Kusentuh lagi keyboard di notebook ku, ku usap beberapa huruf lalu terangkai lah tulisan tentang kamu. Kupejamkan mata, berharap disana kau bisa merasakan disetiap deretan-deretan tulisanku ini adalah kamu.

Sebentar saja, tulisanku tidak memakan banyak waktu dari sekian waktu kesibukanmu. Sembari segala kisah beradu, sembari segala dalam semesta bernyanyi nan syahdu.

Sebentar saja, waktu kita bertemu saling buang mata, dulu kita selalu beradu mata, namun waktu tidak mengizinkan raga mendekat, aku tak sekuat dulu jika melihat mata kamu, sekarang aku terlalu takut sehingga aku melewatkan kamu.

Sebentar saja, hari dimana kita bertukar cerita, gurauan serta canda menjadi langkah disetiap kita berjalan, dulu semudah itu aku mendengar tawamu, indah... Sekarang, cukup dari kejauhan sudah cukup merdu.

Sebentar saja, suatu hari dipagi hari, ku membuka mata teringat kamu dengan garisan senyuman. Sekarang, matamu tak lagi mengawasi ku.

Sebentar saja, ketika semesta menunjukan kuasanya, memberikan kebetulan yang manis. Ya, sungguh ku berharap kebetulan ini tidak bersifat sementara.

Sebentar saja, saat cerita seharusnya kita lanjutkan. Semudah itu kau beri titik diakhir aksara.

Sebentar saja, waktu percakapan usai, waktu cerita berganti tema. Tak ada "kita" diakhir kalimat, sebab sudah enyah.


                                                                                                                       Dhirachameleon

Sunday, October 26, 2014

People leave all the time.


Ada pertanyaan yang belum kau jawab dari sederet pertanyaan "kenapa" dari mulutku.
Entah kau tidak punya jawaban nya, entah untuk apa jika dijawab atau entah jika dijawab hanya akan menyayat hatiku.
Hanya kamu yang tidak ada daya untuk mengeluarkan kata-kata.
Terkekang dalam cerita yang selalu menjadi misteri.

Kata-kata yang selalu ku tunggu.
Ketika aku meletakkan beban ku tepat dipundak mu.
"Tidak! Aku tidak bisa mengatakan bahwa aku tidak menyayangi kamu."
Ya, itu kata manis terakhir yang ku dengar dari mulutmu.

Entah itu tulus, entah itu hanya alunan syahdumu.
Agar menjagaku dari setiap kegelisahan yang selalu menghantuimu.
Ku saksikan dengan tatapan penuh harap.
Namun tak ada kesempatan lagi untuk membawanya menjadi nyata.

"Kamu bisa tanpaku, kamu bisa lihat bahwa aku tidak meninggalkanmu. Aku masih disini, bersama kamu."
Air muka ku berubah.
Mataku mulai berkaca-kaca.
Sibuk mencerna apa yang barusan kau katakan.

Kau bersama ku, namun jiwa dan pikiranmu tak lagi denganku.
Itulah yang membuatku selalu merindukanmu.
Kamu tak bisa lagi ku rangkul.
Bahasa detakmu kupelajari saat kita berpeluk.

Bukan lagi cinta yang sedang kita bahas, namun perpisahan yang selalu berakhir air mata.
Siapa yang ingin berpisah?
Malas rasanya untuk terlibat.
Karena tak lagi ada "kita" disetiap kalimat.

Perlahan pasti ku tahu jawaban dari semua ini.
Menerima dan menjalani itulah kunci dari semua.
Tanpa kau berucap aku pahami.
Namun tetap ku tak percaya diri.

Sore itu, langkahku bercerita namun bisu.
Saat raga menapak tanah, serasa tak berjiwa.
Masih ku ingat, intonasi suaramu.
Aku juga ingat senyum terakhirmu.

Untuk apa ku menebar aksaraku?
Matamu tak lagi awas untuk ku.
Jelas kamu alasan disetiap rutinitasku.
Percayaku pada waktu, dia yang baru akan bergerak menuju aku.

                                                                                           Dhirachameleon
© Come as you are!
Maira Gall