Meski "kita" tak lagi sebagai kalimat penyangga.
Ada "kau" dan "aku" sebagai penawarnya.
Dan "kau" masih menjadi tema yang selalu ingin kutuliskan.
Biarkan siang dan malam berotasi.
Biarkan musim-musim berganti.
Biarkan pula cuaca pergi.
Hingga aku dan kau tahu seberapa kalimat yang kita lupa baca.
Perlahan menjadi usang dan menjadi debu lalu menghilang.
Merasa belum cukup adalah caraku untuk menyiksa diri.
Luka tak akan pernah lepas karena aku masih memeluknya.
Karena bagian paling tersulit ialah sepakat dengan kenyataan.
Kucantumkan selalu namamu berulangkali, dalam setiap doa dan pengharapan bahagia.
Sementara waktu, ku belajar memulai hari tanpa mencintaimu dengan utuh.
Kelak, mungkin akan lebih lama atau bahkan selamanya.
Kutitipkan salam rindu, karena aku akan sibuk mencari kebahagiaan baru.
No comments
Post a Comment