Aku juga masih ingat betul bagaimana aku tidak ingin hal itu terjadi.
Disaat itu, sudah tidak ada artinya kah aku disampingmu?
Sudah siapkah kamu memulai hari tanpa aku?
Aku hanya bisa merengkuh tanpa berucap.
Tak mampu mengeluarkan sepatah kalimatpun.
Aku tidak pernah merasakan sekacau ini sebelumnya.
Apa kamu pernah membuat seseorang sekacau ini, sebelumnya?
Air mata tak mampu lagi ku bendung.
Jelas, mati-matian ku tahan genangan di pelupuk mata ini.
Mulutku rasanya sudah dikunci.
Menghadirkan luka baru yang menganga.
Disana, bersamanya.
Kamu masih berani menghapus derai air mataku.
"Siapapun boleh menangis didepan ku, tapi tidak untuk kamu."
Ya, lagi-lagi kalimat yang menggurat hati.
Aku diam dalam keheningan ini.
Aku bisu dalam kepedihan ini.
Hatiku berkecamuk dalam rasa yang tak menentu.
Kamu adalah jarum yang menancap dihatiku.
Setengah 4 sore.
Ya, kakimu tak lagi berat untuk meninggalkan aku.
Aku tak berdaya atas senja yang berselimut pedih.
Risau dalam hati mengaung perih.
Aku belajar sabar dari sebuah kemarahan.
Aku belajar mengalah dari sebuah keegoisan.
Aku belajar tegar dari sebuah kehilangan.
Aku belajar dari kamu. :)
No comments
Post a Comment