Monday, October 27, 2014

Sebentar saja.


Sudah jelas, aku tidak pandai dalam menulis apalagi merangkai kosakata. Tapi, malam ini kucoba membuka notebook-ku, yang battery nya sudah nge-drop akibat aku lupa mencabut charge nya ketika ku charge'kan semalaman.
Ya, ada artikel yang mengatakan bahwa seseorang jika dilanda gundah gulana, lebih baik mengekspresikan hatinya melalui sebuah tulisan. Ini mungkin bukan pertama kaliku menulis di blog. Sebelumnya sudah pernah, tapi tidak ku lanjutkan, dan memang isi nya terlalu frontal.
Saksi hidup perjalanan cintaku memang buku diary ku, sejak kecil aku selalu menulis diary. Tapi sekarang diary ku entah kemana.
Aku sedikit tidak percaya diri, bukan karena aku lupa dengan kamu, tapi aku ingin hasilnya benar-benar sempurna. Aku terhening dalam jiwa beberapa saat. Ada 2 pertanyaan dalam benak ku, kenapa aku harus menulis artikel kamu di blog ku? Lalu, apa harus kulanjutkan?
Kusentuh lagi keyboard di notebook ku, ku usap beberapa huruf lalu terangkai lah tulisan tentang kamu. Kupejamkan mata, berharap disana kau bisa merasakan disetiap deretan-deretan tulisanku ini adalah kamu.

Sebentar saja, tulisanku tidak memakan banyak waktu dari sekian waktu kesibukanmu. Sembari segala kisah beradu, sembari segala dalam semesta bernyanyi nan syahdu.

Sebentar saja, waktu kita bertemu saling buang mata, dulu kita selalu beradu mata, namun waktu tidak mengizinkan raga mendekat, aku tak sekuat dulu jika melihat mata kamu, sekarang aku terlalu takut sehingga aku melewatkan kamu.

Sebentar saja, hari dimana kita bertukar cerita, gurauan serta canda menjadi langkah disetiap kita berjalan, dulu semudah itu aku mendengar tawamu, indah... Sekarang, cukup dari kejauhan sudah cukup merdu.

Sebentar saja, suatu hari dipagi hari, ku membuka mata teringat kamu dengan garisan senyuman. Sekarang, matamu tak lagi mengawasi ku.

Sebentar saja, ketika semesta menunjukan kuasanya, memberikan kebetulan yang manis. Ya, sungguh ku berharap kebetulan ini tidak bersifat sementara.

Sebentar saja, saat cerita seharusnya kita lanjutkan. Semudah itu kau beri titik diakhir aksara.

Sebentar saja, waktu percakapan usai, waktu cerita berganti tema. Tak ada "kita" diakhir kalimat, sebab sudah enyah.


                                                                                                                       Dhirachameleon

No comments

Post a Comment

© Come as you are!
Maira Gall